Cerita tentang Kehilangan

Dahulu, ketika saya masih di kos, saya pernah merasa ketakutan sekali. saat itu, dalam sehari saya bisa mendengar kabar duka 8 sampai 10 kali. Kejadian itu berlangsung selama dua hari.

Awal mulanya, tidak jauh dari saat itu, saya bermimpi kalau Babah saya meninggal. Di mimpi saja rasanya bisa membuat sesak hati dan kepikiran terus.

Akhirnya saya telpon mamah, saya ceritakan bahwa saya alami mimpi seperti itu. Mamah menanggapinya dengan santai, lalu datanglah Babah dan sayapun ceritakan mimpi saya itu.

Saya ingat betul tanggapannya ketika saya selesai bercerita. Babah tersenyum sambil ada suaranya, meski lirih tapi masih terdengar oleh saya. Lalu dilanjutkan oleh kata-kata yang langsung bikin saya tambah haru :

Tidak perlu takut kehilangan apa yang sudah seharusnya hilang…

“Tidak perlu takut kehilangan apa yang sudah seharusnya hilang, Teh. Masalah mati mah atuh semua orang juga bakal ngalamin, termasuk Babah, tinggal nunggu giliran,” tutur beliau.

Ditanggapi seperti itu, saya mau protes ya udah keburu kebungkam mulutnya. Cuma bisa ber hmm agak panjang aja mewakili rasa tertohok saya yang bercampur sedih.

Ketika kejadian saya mendengar banyak berita duka dalam sehari itu, rasa takut itu datang lagi.

Selain itu, saya seperti diberi tahu bahwa kematian itu benar-benar ada. Bukan isapan jempol belaka, bukan cerita fiksi belaka, sesuatu yang asalnya orang bersepuluh itu hidup kemudian di matikan oleh Allah, lalu dimandikan, di balut kain kafan, disholati, dan di kuburkan ke dalam tanah.

Sendirian, semua pancaindera dan raga tak berfungsi lagi, pengap, gelap, dimakan ulat, lalu busuk, kulit dan daging mengelupas lalu hanya tersisa tulang belulang dan berubah menjadi tengkorak.

Lalu, apa yang terjadi dengan ruhnya? Bagaimana cerita orang bersepuluh yang meninggal itu ketika ditanyai pertanyaan kubur oleh Malaikat Munkar dan Nakir? Kalau tidak bisa jawab, segimana pedihnya siksa kuburnya? Kalau bisa jawab, seterang apa liang lahatnya itu?

Semua bayangan itu berputar terus di kepala sampai akhirnya semua ketakutan bisa dinetralisir setelah ngobrol bersama teman. Dia bilang bahwa dia juga pernah mengalami hal itu.

Dan beberapa waktu lalul, tepatnya hari Jumat, 11 desember 2021, Emak, nenek saya meninggal dunia. Ini kali kelima saya kehilangan orang terdekat dalam keluarga, setelah tiga lainnya kakek dan nenek saya juga, juga bibi.

Emak adalah sosok yang mengurus saya waktu kecil. Saya sampai-sampai dibilang anaknya Emak. Emak hanya punya satu anak perempuan, jadi saya sebagai cucu pertama berjenis kelamin perempuan akhirnya membuat beliau menyayangi saya.

Banyak kenangan dan kebaikan juga pengalaman hidup yang Emak berikan kepada saya, tak sanggup rasanya pada hari itu saya menyaksikan Emak kesakitan menjelang pulangnya, yang saya hanya bisa lihat melalui video call.

Sampai akhrirnya malam itu pukul 11 hari Jumat, Emak hembuskan nafas terakhirnya dengan ditemani Babah dan Om. Dalam video call, sedih dan sakit sekali rasanya menyaksikan seluruh tubuh Emak ditutupi kain jarit.

Benar-benar, Emak yang tadinya bisa bercengkrama, bisa beraktifitas, akhirnya sudah tidak memiliki nyawa lagi, sudah tidak bisa bernafas lagi, sudah menutup mata untuk selamanya, sudah harus dikebumikan.

Ya Allah…

Menyesal, menerima, sedih, sakit, dan kecewa bercampur aduk menjadi satu.

Saat inipun, saat saya menulis ini, dari kejauhan terdengar sayup-sayup lantunan kalimat Tahlil dari pondok Krapyak, karena disana sedang berduka. Mbah KH Najib Abdul Qodir, kemarin sore sudah kapundut, dan siang ini akan dihantarkan menuju pesareannya di Dongkelan.

Laa ilaaha illallah, laa ilaaha illallah,

Laa ilaaha illallah, laa ilaaha illallah,

Muhammadur Rasulullah..

Lantunan kalimat yang dibawa dengan nada sendu itu membuat saya semakin yakin, bahwa kematianpun akan menghampiri saya, yang akan meninggalkan suami dan anak, juga keluarga dan kerabat saya kelak.

Hanya tinggal menunggu giliran.

Lalu, giliran mereka pula yang akan merasakan kehilangan..

4 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *