Tidak Ada Beban yang Melebihi Kemampuanmu, Bu..

Akhir November saya merasa seperti merasakan overwhelmed menjadi ibu dan sedang mempersiapkan untuk menyapih anak saya yang masih saja maju mundur realisasinya.

Ya, saat itu saya merasa bahwa saya seperti kehilangan kebiasaan yang sudah melekat pada diri saya. Sayapun sampai menulis ig stories yang bercerita tentang kemana diri yang suka nulis puisi, nulis kata-kata bijak, mengobrol hal-hal yang berat dan dalam?

Ig stories tersebut ternyata dibalas oleh beberapa ibu-ibu muda yang merasakan hal serupa. Ibu-ibu yang sudah lama mengesampingkan kepentingannya, mimpinya, termasuk hobinya ketika merawat anak dan keluarga.

Sudah 2 tahun berproses menemani Adib, anak saya, dan hanya beraktifitas di rumah saja. Jadi fulltime mother. Segala suka duka dijalani dan dilewati dengan penuh keluh kesah, sedih, marah, senang, tawa, kecewa, menyesal, juga bersyukur dan ikhlas.

Banyak akun-akun parenting yang sering mengingatkan seorang ibu untuk melakukan me time atau self-care dan self-love. Seorang ibu dianjurkan untuk merawat dirinya sendiri, karena untuk merawat dan menyayangi orang lain dengan penuh kasih sayang, butuh tenaga dan pikiran yang tenang sehingga diri sendiri harus dalam kondisi yang stabil emosi dan diliputi energi positif.

Di lain sisi, semua penat dan pengorbanan mengurus anak saya simpulkan harus dikembalikan pada konsep agama. Jika seorang ibu penat, anjuran me time terkadang tidak bisa dilkaukan karena misalnya tuntutan keadaan, tidak ada waktu, bahkan kadang ketika ingin dimengerti atau diberi sedikit perhatian, terkadang kenyataannya tidak seperti itu.

Jadi, kalau tidak punya konsep bahwa semua penat ini akan dihitung sebagai kebaikan yang dicatat sebagai tabungan akhirat, mungkin sudah sangat stres seorang ibu itu.

Di saat perasaan sedang demotivasi saat itu, ternyata pertolongan datang.

Tanggal 6 Desember, disaat saya tidak ada keinginan untuk mencapai target harian atau mempersiapkan suatu project, saya baca Quran. Kebetulan saya baca Al Baqarah secara random.

Biasanya, saya hanya baca-baca saja ayat-ayatQurannya, tanpa membaca arti di sebelahnya. Namun siang itu berbeda.

Ada satu ayat, yang sudah biasa saya kenal yaitu ayat laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha, yang artinya Allah tidak akan memberikan beban diluar kemampuan hambanya.

Di ayat saya baca saat itu, tampak berbeda. Laa tukallafu nafsun illa wus’ahaa. Kenapa ayat tentang beban di ayat ini memakai dhomir ‘ta‘? Kalau pakai dhomir ta, berarti ini untuk perempuan dong?

Pikiran itu terlintas beberapa detik di sela membaca ayatnya dan membuat saya buru-buru menuju artinya.

“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kaena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli warispun (bekewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas kedaunya…”

Membaca penggalan arti surat Al baqarah ayat 233 ini membuat saya melongo seketika. Saya tidak menyangka bahwa ayat ini berbicara tentang seorang ibu, lebih tepatnya tentang kepenatan dan penderitaannya menjadi seorang ibu serta proses menyapih anak.

MasyaAllah, membaca ayat ini ketika kondisinya sedang sangat sesuai dengan kondisi jiwa raga saat itu seperti sebuah hadiah yang diberi yang sangat bermanfaat sekali untuk menguatkan hati saya. Untuk kembali menyadari bahwa seorang ibu sudah sewajarnya mengalami kepenatan dan pengorbanan yang tidak perlu dirasa sebagai sebuah penderitaan.

Semua harus dicoba untuk dilakukan secara ikhlas, tanpa mengharap mendapat balasan dalam berbagai bentuk misalnya perhatian dari orang lain, karena mungkin jika sudahikhlas, Allah sendiri yang akan menggerakkan hati siapa saja sebagai perantara untuk memberikan reward kepada kita.

Atau Allah membalasnya dengan lebih melapangkan hati dan lebih melegakan hati kita dalam menjalani semua tuntutan hidup ini.

Satu lagi, atau Allah membalasnya dengan mewujudkan mimpi-mimpi seorang ibu yang tertunda karena lebih mementingkan mengurus anaknya dulu ketimbang mengejar mimpi dan karirnya.

Oh ya, dan keesokan harinya tanggal 7 Desember, saya tanpa persiapan apapun, ‘iseng-iseng’ menyapih Adib, dan nyatanya, ternyata Allah mudahkan tanpa rewel berkepanjangan atau semalam-seharian. Alhamdulillah…

Dan mulai saat itu, saya mulai bebenah lagi, mulai menata lagi to do list harian saya, dan mengerjakan perombakan layout di kamar buat merubah suasana dan mood saja. Ternyata membantu sangat perubahan itu sampai awal tahun baru ini. Syukur tak henti saya haturkan tiap hari.

2 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *