Mindfulness through Art

Mindfulness adalah kegiatan meditatif yang sekarang sedang menjadi trend yang mudah, murah, dan trendi. Mindfulness, sebagai “waking meditation“, memiliki dampak positif secara fisik dan inteligensi. Manfaatnya dijabarkan oleh Gelb dan Howell (Rima Olivia, 2016), sebagai berikut.

  • Membantu oksigen untuk digunakan lebih efisien
  • Menurunkan persepsi terhadap rasa sakit
  • Meregulasi tekanan darah
  • Memperdalam kondisi relaksasi dan menurunkan ketegangan otot
  • Menurunkan level kortisol dan hormon stres lainnya
  • Memperbaiki pernapasan bagi para penderita asma
  • Memperkuat sistem kekebalan tubuh
  • Membantu menghilangkan rasa sakit kepala dan migrain
  • Mendukung stabilitas emosi dan resiliensi
  • Menghilangkan gejala depresi dan kecemasan
  • Meningkatkan perasaan bahagia, kebermaknaan, dan kedamaian
  • Memperbaiki ingatan dan waktu reaksi
  • Menguatkan koherensi pola gelombang otak yang berhubungan dengan perbaikan kemampuan belajar dan kreativitas

Saat ini, untuk mendapatkan manfaat mindfulness di atas bisa melalu berbagai media. Bisa melalui meditasi yang hanya mendengarkan musik instumental, bisa melalui shalawat (yang akan diulas di blogpost selanjutnya), dan bisa juga melalui seni.

Mindfulness melalui seni adalah olah rasa melalui karya, karena dengan seni, mampu melatih kesadaran, menuangkan rasa dan emosi, mengelola pikiran, mengurangi stres, dan mengenali diri. Atas dasar itu, pada tanggal 12 Juli 2020, Beyond Yourself Indonesia mengadakan Seminar Online bertajuk Mindfulness through Art, bekerjasama dengan Gabriela Fernandez, owner dari Akarupa Class, yang juga seorang seniman dan berlatang belakang pendidikan di Psikologi.

Kak Gabby memaparkan, melatih kesadaran melalui seni didapatkan dengan menyadari sensasi apa yang dirasakan ketika pena atau cat atau krayon atau alat gambar lain mulai menggores di atas kertas. Sensasinya dapat berupa respon tubuh, misalnya menyadari pundak yang meninggi atau wajah yang berkerut. Pikiran yang melintas juga emosi yang dirasakan saat itu mampu disadari dengan seksama sebagai upaya melatih menganali emosi-emosi yang sudah melingkupi kita.

Dari proses menggambar, emosi, rasa, dan pikiran-pikiran kita dapat tertuangkan menjadi sebuah karya yang setiap polanya mengandung perasaan tersendiri. Quote dari Kak Gabby yang cukup mengena untuk pejelasan ini, seperti di bawah ini ya..

“Sebelum terang hadir, kita perlu menuangkan gelap terlebih dahulu”

Stress yang kita alamipun dapat berkurang jika kita menuangkannya dalam sebuah karya seni. Emosi negatif tersebut perlu disalurkan agar tidak menjadi toxic bagi pikiran dan jiwa kita. Emosi negatif yang dipendam akan menimbulkan sampah pikiran dan emosi yang akan berpengaruh pada fisik maupun psikis kita seperti pada pola pikir kita, decision making, pola komunikasi dan hubungan dengan orang lain, juga bisa berdampak pada pola asuh kepada anak-anak kita.

Selanjutnya, Kak Gabby menyebutkan bahwa pola-pola yan tergambar mampu mengenalkan lebih dalam lagi tentang siapa diri yang sebenarnya, yang kadang kita sendiri susah untuk menyadari apa dan bagaimana keinginan, visi, misi, pengelolaan emosi serta tujuan dari hidup kita sendiri.

Masuk pada sesi yang ditunggu-tunggu, yaitu menggambar. Kak Gabby mengajak kita berkenalan dengan Zen Tangle. Zen Tangle ini adalah gambar abstrak yang dibuat menggunakan pola yang berulang-ulang sesuai dengan Metode Zentangle yang sudah terdaftar sebagai merek dagang. Zentangle yang benar selalu dibuat dalam kotak-kotak berukuran 9 cm dan menggunakan tinta hitam di atas kertas putih.

Sesi dimulai degan musik instrumental yang diputarkan oleh Kak Gabby sebagai backsound untuk relaksasi yang dipandunya dan dilanjutkan ke proses menggambar. Dimulai dengan memberikan empat buah titik di kertas atau di buku, lalu di dalamnya dibuatlah beberapa bidang, lalu bidang tersebut diisi oleh pola-pola yang kita inginkan. Kak Gabby selalu mengingatkan untuk tidak terpaku akan hal-hal ideal seperti garis harus lurus, suara musik jika mengganggu, pokoknya bebas mengambar yang muncul dipikiran dan sekehendak tangan untuk menggoreskan penanya.

Saya sendiri mengiuti arahan yang diberikan, dan mulai benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk menggambar ini, setelah beberapa hari ini berada di keriweuhan karena terjadi beberapa kejadian, mulai dari kehilangan paman, ikut berempati yang sangat dalam ke bibi dan anak-anaknya yang masih kecil, kedua nenek saya sakit, lalu kemarin dan hari ini anak saya tiba-tiba demam dan diare, padahal hari ini saya sudah merencakan akan masak dan membuat kue karena hari ini suami saya ulang tahun namun semua rencana tidak berjalan dengan baik. Makanya saya bersemangat join webinar kali ini untuk katarsis semua emosi, meski harus telat setengah jam karena meninabobokan anak dulu.

Selama proses menggambar, Kak Gabby membebaskan para peserta untuk menggambar pola apa saja. Setelah selesai menggambar, tak lupa peserta diberi arahan untuk menjawab beberapa pertanyaan yang terkait dengan gambar yang kita buat. Diantara pola apa yang berulang digambarnya, apa sensasi dan emosi yan dirasakan ketika menggambar, lalu makna apa yang sekiranya mewakili pola tersebut.

Selain itu, Kak Gabby pun menyarankan untuk membuat “legend” seperti di peta, yang diamati dari pola berulang tersebut karena kemungkinan ada kemiripian sensasi dan emosi yang dirasakan jadi ketika nanti menggambar pola tersebut lagi, kita sudah tahu emosi dan kondisi kita saat itu. Misalnya ketika menggambar lingkaran yang penuh di dalamnya, seperti sebuah keruwetan atau pikiran yang penuh yang belum diuraikan. Bisa jadi ketika suatu saat kita meggambar lingkaran penuh lagi, kita juga dalam kondisi demikian.

Saya sendiri menggambar dengan membiarkan pikiran saya dan tangan saya bekerja. Tidak ada rencana akan menggambar ini atau itu, semuanya terasa lepas begitu saja. Ketika segiemlat sudah tergambar dari titik-titik di tiap sudut, bidang yang daya gambar di dalamnya adalah lingkaran. Tanpa mengetahui arti dan tujuan sebelumnya, saga hanya ingin membuat bidang dengan menggunakan lingkaran saja. Lalu bidang itu saya isi dengan pola-pola melengkung, zigzag, lingkaran kecil, bentuk daun, dan garis dengan goresan yang tegas. Tiap pola ternyata memiliki sensasi tersendiri. Ketika menggambar lingkaran kecil, disitu garisnya sangat lembut, emosi saya waktu itu sedang kalem dan pikiran saya pun seolah berkata hidup harus dijalani dengan santai dan kalem. Namun ketika menggambar garis tegas, nafas saya menjadi lebih cepat, pikiran saya menunjukkan bahwa “ya, saya marah”, emosipun terlingkupi dengan emosi yang agak panas. Karena saya rasa marah saya belum selesai, maka saya menggambar lagi garis tegas di bidang yang lain, sensasi yang dirasakan sama. Lalu saya tarik nafas, dan calming down dengan menggambar lingkaran kecil di atas persegi. Lingkaran itu penuh di dalamnya, dan digambar dari luar ke dalam. Emosi saat menggambarnya ada marah sekaligus ada kalem juga. Marah oada saat menggambar bagian luar, kalem pada saat menggoreskan bagian dalamnya. Jadi saya rasa, dengan pola itu, kemarahan saya sudah cukup bisa dikontrol karena menggambarnya semakin dalam semakin tenang. Saya gambar pola itu hingga memmbetuk lengkungan seperti tali yang menggantungkan sebuah pigura.

Lalu di bawah persegi, saya pun menggambar lingkaran penuh dalam berbagai ukuran, xenderung besar-besar. Cukup banyak helaan nafas saat menggambarnya, namun semua emosi seolah terkontrol dengan baik seiring goresan di bagian dalam. Tidak cukup satu lembar, saya punenggambar lagi titik-titik dan bidang di halaman berikutnya. Kali ini bidangnya ada persegi, ada juga lengkungan. Lalu saya membuat pola garis2 yang terputus di setiap bidangnya, nakun membentuk satu lingkaran besar. Di tengah persegi, saya menggambar lingkaran lagi. Namun kali ini pikiran yang muncul saat menggambar libgkaran ini adalah bahwa kita se-“diluar” bagaimanapaun, tetap akan kembali ke dalam, ke inti. Ke dalam diri, ke inti jiwa. Dan tentu, ke inti kehidupan, kembali ke (tujuan) asal. Begitu pikiran saya waktu itu. Setelah mendapat insight itu, terpikir untuk menggambar jalan atau tangga di luar persegi, yang mengerucut ke arah lingkaran. Pola itu dipertegas dengan pola garis-garis pendek yang saya buat menyerupai tangga pula di kedua sisi kanan dan kiri pola jalan. Lalu tiba-tiba saya jngin menuliskan kata-kata yang pernah Ayah saya ucapkan pada saya saat saya cerita kalau saya bermimpi beliau meninggal, yang mana di mimpi itu saya menangis. Ucapan Ayah saya kala itu mengena sampai sekarang :

“Tidak perlu merasa kehilangan apa yang sudah seharusnya hilang…”



Sebagai konklusi dan kesimpulan dari saya, sebagai persona yang hadir di jaman yang sudah mulai penuh kesadaran akan kesehatan mentalnya, sebaiknya kita upayakan untuk menghentikan segala macam bentuk toxic kehidupan, agar hidup kita kedepannya atau generasi kita selanjutnya dapat hidup dengan berkualitas, sehat, bermakna dan sejahtera psikologisnya.

Sesi terakhir berfoto bersama, lengkap dengan hasil menggambarnya.

Tags: No tags
1

One Response

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *