resonansi_azizahmaldotcom[1]

2020 : Refleksi Perjalanan Setengah Tahun

Siapa yang menyangka bahwa tahun 2020 adalah tahun yang memberikan hal tak terduga bagi kita dan semua orang di belahan dunia lainnya? Siapa yang bisa mengira bahwa roda-roda kehidupan akan berhenti sejenak dan kita malah diperintah untuk berdiam #dirumahaja?

Ya, tahun 2020 akan dikenang sebagai tahun yang penuh dengan hal yang tak disangka-sangka. Ya corona atau covid-19 ini yang menjadikan Indonesia dan banyak negara-negara lain merehatkan sejenak semua aktifitas penopang hidup, mulai dari perkantoran pemerintahan, swasta, ruang-ruang publik, sekolah, pesantren, bisnis besar, menengah bahkan bisnis kecil pun terkena imbas harus menghentikan operasionalnya yang bersistem offline. semua diganti dengan daring, menjalankan bisnis dan pekerjaan dari rumah saja dengan bantuan teknologi.

Di satu sisi, tahun 2020 yang sudah sampai di bulan Juni ini, yang artinya sudah 6 bulan terlalui, bagi saya pribadi merupakan waktu yang berjalan dengan moodswing yang beragam. Tahun 2020 saya niatkan akan menjadi tahun keja keras, berkaitan dengan sudah lamanya saya di rumah hanya menemani perkembangan anak saya dan mengurus suami beserta aktifitas domestik saja. Saya sudah kangen ingin beraktifitas lain selain itu, maka rencana pertama saya di awal tahun adalah mencari informasi pekerjaan. Ikhtiar untuk mengikuti seleksi pegawai negeripun dilakukan, tapi Allah belum ridho saya bekerja sebagai pegawai negeri. Setelah tes pada bulan Februari di Bandung, saya melanjutkan untuk mudik sebentar ke Palabuhanratu, Sukabumi. Ternyata mudiknya tidak jadi sebentar, karena hampir satu bulan saya di sana sedangkan suami hanya seminggu pertama saja disana.

Selama di Palabuhanratu, saya banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Melihat orantua saya bermain bersama cucu pertamanya membuat hati hangat sekaligus terharu. Ternyata saya sudah bukan anak kecil lagi yang biasa mereka asuh, saya ternyata sudah punya anak dan memberikan cucu buat mereka. Perasaan tersebut masih saja suka terasa sampai sekarang. Merasa takjub akan perjalanan waktu dan perubahannya dalam proses kehidupan saya. Perasaan baru kemarin saya dimandikan dan disuapi mereka, sekarang saya yang memandikan dan menyuapi anak saya sendiri.

Menjadi orangtua tidaklah mudah, sekarangpun saya merasakan sulitnya mengurus anak sama seperti ketika orangtua saya mengurus saya. Dulu saya sering berkomentar tidak enak dan kadang tidak setuju dengan cara mereka mengasuh anak-anaknya, tapi saya sekarang mengerti kenapa mereka memilih mengasuh dengan cara tersebut pada waktu itu.

Pola hubungan orangtua sayapun menjadi cerminan saya dalam menjalani rumah tangga sekarang. Tidak ada pasangan maupun rumah tangga yang sempurna, termasuk orangtua saya. Termasuk juga rumah tangga saya sendiri. Prinsip hidup, sikap, kepribadian, pola pikir dan cara memutuskan sesuatu di keduanya yang sangat berbeda, menjadi cerminan juga patokan untuk saya memutuskanΒ  “oh yang kaya gini harus kaya mereka nih” dan “wah kalau yang gini sebaiknya ada versiku sendiri”, yang sering muncul ketika saya hendak mengambil sikap terhadap kondisi yang tengah terjadi. Tidak disangkal bahwa inner child kadang timbul pada proses mengasuh anak saya ini. Emosi-emosi negatif dari masa lalu yang terkadang timbul seringnya membuat perasaan jadi campur aduk. Hati terdalam ingin sekali ada yang memahami kondisi negatif saat itu, tapi satu sisi juga terkadang ingin sekali bisa melewatinya tanpa perlu merepotkan orang lain. Dan yang paling menyesakkan, kadang pikiran atau logika seolah sudah menerima kondisi negatif tersebut, tapi hati ternyata masih saja terasa perih.

Ada satu lagi yang terpenting, dan yang saya inginkan sekali, yaitu hubungan orangtua dan anak yang terjadi di saat kita kecil, yang terasa negatif, sebaiknya disudahi saja sampai di kita. Jangan sampai pola itu terbawa ke pola hubungan kita dengan anak kita sendiri. Putuslah rasa sakit yang turun temurun itu pada diri kita, tak perlu menurukannya pada anak kita lagi. Cara saya untuk mewujudkannya adalah dengan menyadari hal-hal negatif tersebut, menerimanya dan mencoba memaafkannya. Susah, susah sekali karena memang memori masa kanak-kanak kita cenderung melekat tajam dalam ingatan terlebih yang sangat menohok di hati. Tapi karena sayapun sudah dewasa dan sudah mengalami di posisi orangtua saya ketika mengasuh anak, pemahaman dan pemaafanpun bisa segera datang karena bentuk empati pada kondisi saat itu. Dan tujuan untuk selalu melaksanakan positive and mindful parenting bisa tercapai, disela-sela segala kekurangan kita.

Tibalah saatnya saya pulang ke Jogja, pada bulan Maret. Saya aka bercerita agak detail di bagian sini karena sekalian mengenang perjalanan itu. Sebab, itu adalah pertama kalinya saya mengajak anak saya roadtrip, karena pulang kali ini saya bersama adik laki-laki saya yang hendak ke Tasikmalaya, sekaligus akan menengok salah satu adik perempuan saya yang sedang mondok disana. Saya kira bakal capek dan riweuh bawa anak bayi naek mobil ke Tasik, tanpa carseat punn.. jadi berangkat dari rumah jam 7 an pagi, mampir dulu ke Warungkiara, Cibadak, dan Cisaat untuk menjemput om dan bibi juga teman adik saya, serta ke Sukaraja untuk nengok sepupu yang baru saja lahiran. Pergi dari wilayah Sukabuminya sekitar jam 3 an, lanjut ke Bandung nganterin om dan bibi dulu ke kosan sepupu saya yang abis kena banjir di Jatinagor. Jam 9 malam barulah meluncur ke Tasik, dan sampai disana jam 2 malam.. Wow, sungguh perjalanan yang tidak sebentar yang ternyata saya mampu melewatinya.. hehehe.

Di tasik, saya 2 hari karena masih kangen dengan adek saya yang lagi mondok di sana, dan masih ingin menikmati suasana sepi, damai di rumah kerabat yang jauh dari hiruk pikuk keramaian, di belakang kebun salak, di gunung, dimana tetangganya masih bisa dihitung jari. Sungguh menyejukkan suasana, fisik maupun psikis. Setelah 2 hari, akhirnya saya dan anak saya pulang ke Jogja naik kereta. Sama siapa? Hanya kami berdua.. bener-bener saya dan Adib sajaa.. pertama kalinya saya bepergian keluar kota hanya berdua dengan anak saya saja. Lagi-lagi, saya menyangka bahwa perjalanan akan riweuh sehingga semuanya dipikir mateng-mateng sebelumnya sampai “belum-belum udah riweuh duluan”, mulai dari pemesanan tiket, pilih kursi duduk yang kira2 sampingnya kosong, pilih gerbong jangan yang jauh-jauh, jadwal keberangkatan yang dipilih siang sekitar jam 11.30 supaya nyampe sana sore biar adem dan gak kemaleman, sampai bawa cemilan, makanan mpasi, dan minuman untuk rentang 5 jam rute perjalanan Tasik ke Jogja sekaligus riweuh menyiapkan mental karena masih degdegan mau bepergian sama bayik.

Tapi ternyataaa, di kereta saat itu kosong hampir 4 baris, jadi yang awalnya saya di kursi depan dan ada Bapak-bapak di kursi samping -orang Jakarta yang mau berlibur ke Magelang menghindari hiruk-pikuk corona saat itu- saya bisa pindah ke belakang sehingga leluasa. Tidak lama setelah kereta jalan, setelah dbf, Adibpun tertidur. Karena kursi banyak yang kosong, akhirnya Adib saya tidurkan di 2 kursi, dan saya pindah ke kursi di lajur sebelahnya. Wahhh, nikmat sekali perjalanan kala itu. Saya sungguh bisa menikmati perjalanan, sampai Adibpun betah tidurnya, nyenyak banget gak bangun-bangun sampai tiba di Jogja! Itupun karena saya bangunkan dia! Bayangkann! Dia nyaman banget boboknya selimutan di bawah AC sampe 5 jam hahaha… Lagi-lagi, perjalanan yang disangka akan riweuh, ternyata saya mampu melewatinya dengan bahagiaaa.. Alhamdulillah

Perjalanan mulai dari roadtrip ke Tasik sampai naik kereta ke Jogja yang hanya berdua dengan anak, mengajarkan saya arti persiapan yang matang akan membuahkan kekuatan dan kepercayaan diri ketika menjalaninya. Namun, ada hal yang lebih penting, yaitu kemenyerahan kita pada situasi dan kondisi yang akan terjadi nanti, yang kita belum tahu meski sudah dirancang sedemikian rupa, itulah yang akhirnya mendapat sambutan hangat dari semesta. Siapa yang menyangka anak saya bisa betah di mobil tanpa rewel? Dia anteng saja menikmati jalanan, dbf dan tertidur. Lalu, siapa yang menyangka juga kalau anak saya akan tidur selama perjalanan penuh dari Tasik ke Jogja berdurasi 5 jam itu? Sebelumnya, paling banter saya mengafirmasi positif diri saya hanya sebatas “ajak main Adib selama perjalanan, cari posisi yang nyaman untuk kamu dan Adib”, “peralatan dan keperluan harus dekat jangkauan biar mudah”, dan “apapun yang terjadi nanti, keep calm dan berdoa bersholawat aja”. Kenyataan yang terjadi, lebih mudah dari sangkaan, yang terus-terusan negatif itu. MasyaAllah.. Allah memudahkan semuanya.

Setibanya di Jogja, saya sudah berniat ingin mengajak Adib jalan-jalan ke kebun binatang supaya hasrat jalan-jalan Adib bisa terpenuhi. Namun apa daya, 2 hari setelah tiba, aturan social distancing mulai diberlakukan. Belum lagi pandangan orang sekitar bagi orang yang baru datang ke Jogja setelah mudik. Jadi saya mengkarantina diri selama 2 minggu hanya di dalam rumah saja. Sesekali Adib dibawa ayahnya ke depan rumah, dan sekali dua kali juga saya belanja sayuran di simbah penjual sayur dekat rumah. Sisanya saya pesan online atau minta tolong ayahnya belanja sayur di warung di Krapyak. 

Kurang dari satu bulan setelah sampai di Jogja, saya dan suami memutuskan akan berjualan. Bak gayung bersambut, kakak ipar saya menawarkan produk bawang goreng yang dicampur sambal terasi atau biasa disebut siwang. Sebelumnya, tahun lalu ketika mudik ke Cirebon, suami beli siwang untuk oleh-oleh buat dibawa pulang ke Jogja dan kami suka banget sama siwang itu terutama saya yang baru pertama kali nyicipin. Jadi begitu kakak ipar menawarkan produk akhirnya kami terima. Setelah melakukan branding, diputuskanlah nama mereknya Siwang Mi Kaji, bisa dicek disini. Mi Kaji itu dalam bahasa Indonesia berarti Ibu Haji, istilah yang biasa orang sekitar Cirebon pakai. Awalnya iseng-iseng aja jualan di instagram dan WA, eh gayung bersambut lagi. Teman-teman penasaran dan beli siwang ini, dan tanpa diminta mereka bikin review di sosmed mereka dan juga kasih testimoni tanpa saya minta. Wah senang dan harunya luar biasa, dengan promosi dari mereka jadi bikin teman-teman lain tahu siwang Mi Kaji ini dan order pula. Sempat pula saya kirim DM beberapa akun yang punya followers banyak dan suka merekomendasikan tempat atau makanan, merekapun mau membantu review dan promosi. Hingga saatnya saya memutuskan untuk membuat akun instagramnya setelah sebelumnya saya agak malas karena harus isi konten, harus foto produk, harus mengedepankan branding dibanding interaksi yang luwes seperti di akun personal saya, menaikkan followers, engagement dan lain-lainnya. Tapi, yang pertama kali saya pikirkan adalah konten, yaitu foto produk. Saya masih mikir seharian itu gimana caranya,  wah kebetulan tiba-tiba ada temen saya yang menawarkan jasa foto produk gratis sebagai bentuk support dia untuk usaha mikro di tengah pandemi ini. Saya senang sekali mendapat kabar itu, akhirnya Siwang Mi Kaji punya foto produk yang proper. Setelah foto produk, saya masih mikirin soal gimana caranya bisa naikin followers supaya promosi bisa dijangkau banyak orang. Eh, gayung bersambut lagi. Ada adek kelas yang sekarang jadi istri temen seangkatan saya waktu di pondok, nawarin bantuan support sosmed. Terbantu sekali untuk isi konten di akun itu. Lalu, setelah lebaran, stok foto kemungkinan harus diperbarui, eh datang lagi penolong. Dia anak kosan dulu waktu jaman kuliah, nawarin foto produk gratis kataya mau sekalian belajar. Ya Alhamdulillah sekalii, Allah langsung hadirkan penolong di tengah ikhtiarku merintis usaha. Mungkin ini juga salah satu bentuk keberkahan di masa pandemi ini bagi usaha kecil yang baru merintis atau yang terkena imbas, sampai-sampai instagram pun membuat campaign story Dukung Usaha Mikro. Saya sangat-sangat terbantu oleh kebaikan mereka dan sangat bersyukur untuk hal itu. Terimakasih banyak saya ucapkan bagi para orang baik disana..

Satu hal yang saya sadari dari peristiwa-peristiwa di atas, yaitu tentang resonansi. Ya, istilah yang cukup sering saya dan teman-teman sebut ketika kuliah psikologi dulu. Resonansi adalah salah satu istilah dalam psikologi transpersonal, dimana yang kita pikirkan atau bayangkan kemudian terjadi akibat adanya “getaran” dari diri kita ke semesta. Arti mudahnya kurang lebih seperti itu. Peristiwa yang terjadi kepada saya waktu itu juga menunjukkan hal itu. Allah selalu memberikan kesempatan hambaNya untuk berusaha semaksimal mungkin, karena manusia diberi kemampuan kasb, yaitu berusaha. Namun, penentu akhir adalah Dia. Maka, bagaimanapun caranya manusia sebaiknya melihat hal-hal positif di tengah keriweuhannya, kekalutannya, kesedihannya, karena Allah akan memberikan jawaban atas apa yang kita pikirkan bahkan dalam waktu yang cenderung singkat. Hal itu membuat saya semakin harus bersyukur, berpikir dan bersikap positive supaya feedback yang saya dapat dari semestapun berbentuk hal baik yang kembali ke saya. Itulah the power of positive thinking atau husnudzon yang dampaknya bisa memudahkan semua langkah ikhtiar kita dalam menjalani hidup, dimana hidup selalu terdiri dari dua sisi mata uang.

Perjalan setengah tahun ini sudah memberikan banyak pelajaran, bahkan pelajaran yang sangat langka. Yaitu pelajaran menghadapi virus corona! Semoga setengah tahun kedepan menjadi penggenap waktu belajar kita, dimulai dari bulan Juli yang akan datang beberapa hari kedepan, mulai dengan lebih mempersiapkan kehidupan new normal, yang pasti butuh penyesuaian juga di segala sisi aktifitas dan kehidupan kita.

Diantara hal yang buruk, masih ada hal baiknya. Baik buruknya sesuatu yang sudah ditakdirkan, tergantung kita yang memandang, positif kah atau negatif kah. Terus positive thinking yaa terhadap kondisi pandemi ini. Stay safe and healthy, both physical and mental! Selamat menemukan hal-hal baik lainnyaaa.. 😊

Tags: No tags
0

12 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *